Sejarah Berdirinya Magetan

 SEJARAH BERDIRINYA MAGETAN

Sejarah berdirinya kabupaten magetan tidak lepas dari asal-usul pemberian nama magetan itu sendiri. Sebelum membahas tentang asal-usul nama tersebut terlebih dahulu kita menarik sejarah ke masa kerajaan pada masa lampau agar benang merah sejarah berdirinya magetan dapat lebih mudah dipahami.

Magetan
Magetan/Cakwicak.com

Masa kerajaan Mataram

 Benang merah sejarah berdirinya kabupaten magetan berawal pada abad XVI yaitu pada masa kerajaan mataram. Magetan pada saat itu berada dibawah kekuasan kerajaan mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo yang sangat gigih melawan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) namun telah wafat pada tahun 1645. Penerus tahta mataram selanjutnya yaitu Sultan Amangkurat I namun beliau sangat berbeda dalam hal kepemiminannya karena sikapnya lemah kepada VOC dan bahkan membuat perjanjian yang memudahkan VOC secara leluasa melakukan pelayaran ke pulau Banda, Ambon, dan Ternate.

Dampak dari perjanjian tersebut Sultan Amangkurat I mendapat pandangan negatif dikalangan keraton termasuk putranya sendiri yaitu Adipati Anom yang kelak bergelar Amangkurat II. Peristiwa yang terjadi di pusat pemerintahan mataram selalu diikuti daerah naungannya salah satunya yaitu di pesisir utara pulau jawa, Pangeran Giri yang sangat berpengaruh disana mulai bersiap-siap untuk melepaskan diri dari wilayah kekuasaan Mataram. Pangeran dari Madura bernama Trunojoyo juga ingin melepaskan diri dari Mataram. Dalam suasana seperti itu kerabat keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan patih Mataram yang bernama pangeran Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama yang beroposisi dan menentang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I.

Baca juga : Pangeran Nrang Kusumo

Masa Pengasingan

Atas tuduhan tersebut Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning Semarang selama 40 hari ditempat kediaman Kakek beliau yang bernama Basah Suryaningrat. Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatan dan pergi bertapa ke daerah sebelah timur gunung Lawu dan jabatannya diganti oleh adiknya yang bernama Pangeran Nrang Boyo II. Keduanya ini putra patih Nrang Boyo (Kanjeng Gusti Susuhunan Giri IV Mataram).

Dipengasingannya Basah Gondokusumo mendapatkan nasehat dari kakeknya yang bernama Basah Suryaningrat untuk menyingkir ke daerah timur gunung  Lawu yang saat itu sedang diadakan babat hutan. Atas dasar perintah Ki Ageng Mageti, seseorang yang bernama Ki Buyut Suro (Buyut adalah gelar kuno untuk lurah/kepala desa) melaksanakan proses babat hutan di timur Gunung Lawu. Mereka berdua yaitu Basah Gondokusumo dan Basah Suryaningrat akhirnya pergi ke timur Gunung Lawu dan menemui Ki Ageng Mageti dengan perantaranya yaitu Ki Ageng Getas.

Baca juga : Ki Ageng Mageti sosok penting dibalik magetan

Pertemuan tersebut berjalan alot dan sengit pada awalnya namun setelah mengetahui bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat keraton Mataram, melainkan sesepuh Mataram yang memerlukan pengayoman Ki Ageng Mageti akhirnya mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiannya terhadap Mataram kepada Basah Suryaningrat. Tanah tersebut kemudian diberikan kepada Basah Gondokusumo dan menobatkan Basah Gondokusumo sebagai penguasa baru di tempat tersebut pada tanggal 12 oktober 1675 dengan gelar Yosonegoro yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro. Atas kebesaran hati dan kesetiaan Ki Ageng Mageti maka daerahnya dinamai dengan nama Magetan yang berasal dari unsur nama Mageti (Ki Ageng Mageti). [samuel]

Subscribe to receive free email updates: