PKI Madiun-Magetan : Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati

Logo PKI
Logo Partai Komunis Indonesia/wikimedia.org


PKI mendeklarasikan dirinya sebagai partai politik setelah dikeluarkannya maklumat Pemerintah Nomor X November 1945 tentang seruan mendirikan partai politik. PKI atau kepanjangan dari Partai Komunis Indonesia memiliki ideologi Komunisme dan Marxisme – Leninisme walaupun pada awalnya ia dipelopori oleh Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau yang lebih dikenal dengan nama Henk Sneevliet dengan ideologi komunis dengan kaum sosialis Hindia Belanda.

PKI yang diulas disini adalah PKI yang berdiri pasca kemerdekaan indonesia yaitu 17 Agustus 1945. Berdasarkan riwayat sejarahnya embrionya muncul pada tahun 1914 dengan berdirinya ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) oleh Henk Sneevliet, kemudian pada tahun 1920 berubah menjadi PKH (Perserikatan Komunis di Hindia) karena pembentukan blok antara ISDV dengan organisasi anti-kolonialis Sarekat Islam. Anti-kolonialis Sarekat Islam sendiri adalah pecahan dari organisasi Sarekat Islam (Sarekat Islam (SI) /Sarekat Dagang Islam (SDI) ) terpecah menjadi “SI putih” dipimpin Hos Tjokroaminoto dan “SI Merah” dipimpin Semaoen yang berlandaskan asas sosialisme-komunisme. Kemudian pada tahun 1924 namanya diubah menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia).

Mengapa PKI di Madiun

Pasca resminya PKI sebagai partai politik ia melebarkan pengaruhnya di berbagai daerah terutama daerah yang minus secara ekonomi dan wilayah yang keislamannya masih “terbelakang’. Tahun 1947 kepengurusannya hampir merata dan sudah menjangkau daerah pedalaman. Tak luput daerah – daerah seperti Madiun dan sekitarnya seperti Ngawi, Tulungagung, Bojonegoro, Pacitan, Trenggalek kemudian Purwodadi, Boyolali hingga pati, dan Magelang, Wonogiri, Klaten serta Solo turut menjadi basis pengembangan PKI.  

ulang tahun ke 45 PKI
Ulang tahun ke 45 PKI tahun 1965/wikimedia.org

Dari seluruh wilayah yang menjadi basis pengembangan PKI, Madiun adalah daerah yang potensinya paling kuat, disinilah Muso memproklamirkan Negara Soviet Indonesia. Di Madiun terdapat kesatuan pendukung PKI Muso yaitu kesatuan Brigade 29 di bawah pimpinan kolonel Dachlan, kekuatan ini bersumber dari batalyon-bataylon Mustofa, Mursid, Darmintoadji, Pajang Djokoprojono, Abdurraman, dan Malady Yusuf. Pasukan-pasukannya kebanyakan terdiri dari eks-Pesindo yang kemudian tergabung dalam Brigade 29.

Adapun pembagiannya daerah abangan Ponorogo di tempatkan Batalyon Pajang Djokoprojono, Abdulrahman, dan Malady Yusuf, di Magetan di tempatkan Batalyon Mursid, di Ngawi di tempatkan Batalyon Darmintoadji, Sementara Madiun di tempatkan Batalyon Mustofa.

Tidak hanya dari pasukan militer PKI saja, di Madiun PKI juga mendapat dukungan dari sebagian rakyat setempat. Pada tahun 1984 dukungan kepada PKI datang dari petani-petani sekitar perkebunan, buruh-buruh perkebunan, dan buruh pabrik-pabrik gula, buruh kereta api dan serekat pegawai atau buruh pamong praja. Selain itu samar – samar dukungan juga datang dari penduduk abangan karesidenan Madiun.

Pondok Pesantren target PKI

Ideologi komunis yang dibawa PKI tidak serta merta diterima oleh seluruh rakyat, termasuk juga lawan politiknya yaitu Partai Masyumi. Kalangan Santri, Kiai, Ulama dan mayoritas umat islam banyak yang mendukung Masyumi sebagai pro pemerintah. Sementara itu PKI mengakomodir dukungan yang tidak masuk dalam Partai Masyumi seperti golongan Abangan (Sinkretisme atau percaya pada ajaran leluhur dan tidak percaya pada agama) dan sebagian umat islam.


PKI madiun
ulama dan umat islam mejadi korban kebiadaban PKI di madiun tahun 1948/swamediumdotcom



PKI madiun
Pembunuhan tokoh agama/swamedium.com


Pesantren sebagai lumbung penggemblengan kader – kader umat islam menjadi target pemberontakan PKI, karena pesantren merupakan saingan terberat PKI dalam melakukan revolusi sosial, mereka lebih dipercaya rakyat daripada PKI yang cenderung ditakuti  

Baca juga : Kejamnya PKI di 3 Pesantren Magetan

Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati

Dalam menghadapi kekuatan pesantren, PKI membakar semangat kadernya dengan slogan “Pondok bobrok, Langgar bubar, Santri mati”. Slogan ini bukan isapan jempol belaka, operasi pemberotakan PKI bulan september 1948 benar-benar keji dengan strateginya “teror tangkap bantai”. Pondok pesantren di sekitar Madiun juga menerima dampaknya seperti : 

  • Pesantren Thoriqussu’ada Madiun
  • Pesantren Sabilil Muttaqin Takeran Magetan
  • Pesantren Tegalrejo Magetan
  • Pesantren Ath Thohirin Magetan
  • Pesantren Tanjungsari Walikukun Ngawi
  • Pesantren Gontor Ponorogo

[samuel]



Subscribe to receive free email updates: